Ni artikel dapet dr buletin Board yang dipost ma Erwin..
keren banget isinya…
Emank kadang kala… kita butuh ‘Diam’ buat menghadapi suatu masalah..
tapi bukan sekedar diam… Tapi kita juga harus berpikir…..
Apakah yg telah kita lakukan selama ini benar ato tidak…
Coba Dibaca de.. terus direnungin…. ^.^
ORANG bijak berkata: "Kebenaran itu
bukan untuk dipelajari, melainkan
ditemukan." Pertanyaannya adalah: "Di
mana mencarinya?" Jawabnya: "Di dalam
diam!" Sebab, di dalam diam itu kita
bisa berbicara dengan hati. Hati itu
merupakan teleskop dari jiwa, sedangkan
mata merupakan teleskop dari hati.
Contoh. Kita sering mempertunjukkan
kekerdilan diri karena tidak mau diam.
Mulut
nyerocos, tahu-tahu tidak nyambung
antara keinginan hati dan paparan mulut.
Berbuih-buih sudah mulut berkoar,
akhirnya kebohongannya terkuak dan sulit
ditambal.
Padahal, asal tahu saja, diam adalah
perisai orang bodoh dan pelindung bagi
orang bijak. Orang bodoh tak perlu
membuktikan kebodohannya bila ia diam,
dan
orang bijak tak akan melemparkan mutiara
ke depan babi bila ia tahu nilai
diam.
Dengan diam –sembari belajar sabar–
sebuah soal yang pelik bisa
terpecahkan.
Anda pernah dengar kisah Nasrudin
mencari jarum di halaman rumahnya?
Berjam-jam
dia mencari jarum yang hilang itu hingga
membuat seluruh tetangganya
tergerak.
Ramai-ramai mereka ikut sibuk membantu
Nasrudin, tapi jarum yang dicari
tidak
ditemukan. Seperti lenyap tertelan bumi.
Namun, ada seorang yang diam, yang hanya
memperhatikan polah tingkah mereka.
Lama-lama orang ini mendekati Nasrudin
dan bertanya: "Anda mencari apa?"
Jarum
yang hilang. "Di mana jarum itu
terjatuh?" Nasrudin menjawab: "Di dalam
rumah."
Lho, kok, dicari di halaman rumah? "Ya,
di dalam rumah gelap, tapi di
halaman
ini terang."
Logika Nasrudin memang sering
terbolak-balik. Namun, dari cerita ini bisa
ditarik garis apa saja. Misalnya, bahwa
sebenarnya kehidupan itu intinya ada
di
hati. Jika "hati itu gelap", sulit
menemukan kebenaran. Jadi, butuh "cahaya"
Ilahi. Sebenarnya pula, tiada sesuatu
kehidupan yang tanpa makna. Hanya
karena
tak memahaminya, maka kita berada dalam
kegelapan.
Sebenarnya, setiap gerak, isyarat,
bentuk, suara, perkataan, ekspresi,
suasana,
semuanya menjadi ekspresi sifat dan
karakter seseorang. Tanpa harus
berbicara,
mata seseorang sudah bisa terlihat,
adakah dia ridha atau tidak, mau atau
enggan, menolak atau menyetujui, cinta
atau benci, bohong atau jujur.
Bahkan,
kearifan dan kebodohan semua menjelma
melalui mata.
Melalui mata pula akan ketahuan bahwa
persahabatan itu sebatas kepentingan
profesional, penuh pamrih atau setengah
tulus. Tak bisa dimungkiri bahwa
tiada
hidup yang tanpa pamrih, baik kepada
orangtua, anak, istri, mertua, maupun
tetangga. Yang membedakan cuma kadar
kepamrihannya.
Kita sering tak peduli pada tawa dan
tangis orang lain. Banyak orang kaya
dan
punya kedudukan, tapi acap dipenuhi
kekecewaan. Ia sering sedih tanpa tahu
penyebabnya. Ia merindukan kebahagiaan.
Pepatah Hindu mengatakan: "Makin
kita
mengejar kebahagiaan, makin tak bahagia
keadaan yang kita temukan."
Itu karena kita kurang merenung, dan
"diam". Hati kita tak lagi peka
mendengar
"suara" orang lain. Bila kita tak mampu
memahami masalah sendiri dengan
dalam,
bagaimana bisa memahami orang lain?
Maka, yang muncul kemudian adalah
menyalahkan, menyikut, mempermalukan,
membodohi, dan menipu orang lain. Kita
jadi licik. Ini sebuah soal yang terasa
makin jamak di negeri ini.
"Oleh karena itu, yang penting bagimu,
kerjakanlah apa-apa yang baik bagimu
dan
bukan yang baik menurut mereka, sembari
kau serahkan jiwa ragamu kepada
Tuhan,"
tulis Jatiswara Kawedar. Dan, Anda
pernah mendengar bahwa, "Manusia itu
sesungguhnya adalah gurunya sendiri; di
dalam dirinya sendiri terdapat
rahasia
keberadaannya."
Maka sekali-selai diam dan merenunglah